Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

Kasih yang Terengut

Betapa indahnya pagi ini, saat bisa berjalan denganmu, walau hanya jalan kaki. Bahagia rasanya bisa berdua denganmu. Pagi yang indah dan penuh warna , penuh dengan bunga-bunga seakan memberi salam pagi melambaikan salmbut mesra , dan berakhir di ujung gang kecil tempat menanti ANGKOT . Engkau pun pergi bersamanya, sedangkan aku hanya berdiri sendiri karena tak punya ongkos untuk mengantarkanmu.Mata ku masih saja memandangi bagian belakang angkot yang sebentar lagi menghilang di persimpangan jalan. 

Aku masih saja berdiri termangu menanti truk pasir yang lewat ke arah rumahku. Lama berharap akhirnya datang juga yang ketunggu-tunggu. Dengan susah payah ku lemparkan tas buluk berisi buku-buku pelajaran ke atas truk. Agak kesulitan aku menaiki truk, karena badan yang kecil ini terasa sulit bukan kepalang. Ku rebahkan badanku di atas hamparan pasir sambil menarik dalam nafas yang tersenggal, tak lagi berfikir esok mau pakai baju yang mana, yang ku pakai ini hanya ada satu-satunya. Sedih mengingat semua peristiwa itu, namun terasa ada begitu banyak senyuman yang bisa kucermati dalam langkah kehidupan yang penuh keprihatinan. 


Musim hujan di awal bulan November , begitu banyak membawa cerita , baik suka mau pun duka. Semua kulewati bagai kan jalan panjang rel kereta api Anyer- Panarukan yang melintas dekat rumah di mana aku dibesarkan. 

Sore itu hujan masih saja turun seperti hari-hari kemarin ,membasahi sekujur tubuh yang terbungkus seragam putih biru beralaskan sepatu cat pemain film m
andarin. Jalanan berbatu itu pun seakan licin ketika hujan semakin deras mengguyur bumi. Langkahku semakin melayang , seakan tak pernah sampai tujuan. Sebentar lagi jalan menanjak telah dekat dihadapan mata. Licin , bagaikan berminyak, seakan sulit untuk dipijak. Dengan sekali hentakan aku menanjaki jalan itu. Belum juga sampai di atas, tubuhku sudah kembali lagi ke bawah. Terguling-guling bagaikan dibanting keras dengan kepala menghantam bumi yang basah dan licin. Seragam telah berubah warna, entah di mana sepatu merk capung itu. Mata terasa berkunang-kunang enggan untuk bangkit. Tanjakan itu terasa semakin tinggi kulihat nanar, mana kala kepala ada di bawah dengan posisi terbalik yang kulihat hanya langit yang masih menurunkan butiran hujan. Peristiwa yang ke dua kalinya ini terasa semakin sakit ku ingat, namun apalah daya itulah sepatu yang hanya mampu diberikan Ibuku. Sepatu yang sudah tak jelas tinggal berapa mili ketebalannya, itulah sahabat setiap hari yang menemaniku ke sekolah.

Dengan susah payah kupanjat tebing itu dengan merangkak. Sepatu lapuk itu tetap kubawa pulang menyusuri jalan becek berair. Entah sudah berupa apa bentuk kaos kaki warna hitam tak lagi jelas bentuk rupanya.





Pohon karet dekat sekolah nampak hijau berdaun baru. Rindang dengan kesejukan musim hujan. Seakan membawa kesegaran ketika siang menjelang. Hari ini tak ku jumpai dia yang biasa duduk di dekat tukang bubur kacang hijau, tempat satu-satunya kantin sekolah tempat teman-teman biasa pesan nasi uduk dan lontong guyur.

Aku melangkah menuju kelas, ketika bel awal pela
jarn. Kulihat bangkunya masih saja kosong. Biasanya kulihat tas merah muda tergolek di sana. Hari ini tak kulihat , entahlah, apakah dia sakit atau,...aach ,...pikiranku semakin jauh melayang.

Lamunanku terhenti, ketika kudengar salam yang diucapkan oleh wakil ketua Osis. Inna lillahi wa inna illahi rojiuun, telah berpulang teman juga sahabat kita semua yang kita cintai. Demikian kalimat yang terucapkan dari rekan sahabat wakil Osis. Aku tak sanggup melanjutkan cerita, dan menyebutkan namanya. Hanya sebaris kalimat serta doa semoga engkau bahagia di sana, maafkan segala kesalahanku serta kealfaan ini. Selamat jalan sahabat semoga engkau damai di sisi-Nya. Aamiiin...

Dari kisah kelam di SMP.1983. Menjelang akhir kelulusan. Air mata orang tua sepuh itu tak kuasa membendung air mataku. Aku telah kehilangan sahabat , juga kekasihku. Dialah yang membuat aku tegar dalam menjalani dan meraih cita. Kini hanya bening matanya yang berbinar dan senyumnya yang menawan seakan tak pernah hilang dalam ingatan. 





====Soleman sair. 2012.

Jumat, 23 November 2012

Perjalanan

SENYUM YANG TERAKHIR


Pohon jagung itu nampak indah dengan barisannya, yang segar dan berbuah. Aku ajak dia ke sana untuk memanennya, sebagai bekal pulang ke kotanya sebagai oleh-oleh untuk kepergiannya yang terakhir. Karung kecil itu telah penuh terisi jagung segar, kulihat pula senyumnya sebagai tanda terima kasihnya, ternyata itu adalah senyum terakhirnya pula. Banyak cerita yang diungkapkannya, tentang dirinya dan keluarganya, juga sahabat-sahabat terbaiknya. Sangat panjang ceritanya, aku pun setia mendengar keluh kesahnya, sambil kurapihkan jagung-jagung yang masih berserakan.

Matahari senja mengiringi kepulangan kami berdua,denagn jagung yang kubawa. Tangan lembutnya masih memegangi kaus lusuh yang kukenakan, ada rasa sungkan dan malu-malu bercampur jadi satu. Jalan pulang begitu cepat terasa sampainya, padahal aku ingin berlama-lama, seakan memutar balik arah. Hujan. Tak pelak terhindarkan, namun langkah kami pun terus saja menyusuri jalan setapak untuk pulang. Tebing terjal sebentar lagi terlewati, nampak licin dan membuat ngeri kulewati. Pegangan tangan lembutnya semakin kuat kurasakan, hanya senyumnya kulihat, walau dia kemudian menunduk malu kulihat.

Buuk!, Karung jagung itu telah tergelinciir bersama tubuh yang kemudian terguling. Tak lama, tubuh mungil gadis kota itu pun menimpa menyusul di sampingku, dia pun ikut terjatuh pula. Ada perasaan bersalah kepadanya. Tak banyak kata yang terucapkan, aku hanya mengusap wajahnya yang nampak merah dengan hiasan ltanah liat . Dia pun mendekat dengan jemarinya yang mengibaskan tanah yang melekat di hidung, namun tiba-tiba dia memelukku. Ada getaran aneh yang menjalar dalam tubuhku,dengan pakaian yang basah oleh hujan dan penuh dengan tanah liat.

Semenjak kejadian itu, ada hal aneh yang menghiasi pertemuanku dengannya. Malu. Dia malu menemuiku, atau dia tahu bahwa aku hanya anak desa dengan sejuta kemiskinan, atau entah apa.?.Aku tak boleh lagi menemuinya, bahkan bertegur sapa pun dia tak mau lagi. Aku tak tahu. Rahasia apa yang disimpannya. Itulah senyum terakhir yang kulihat dari wajahnya.======by: Soleman 1985 



KISAH MOTOR BUTUT

Motor butut berwarna merah itu jadi saksi bisu, saat pelukkan tanganmu semakin erat terasa di pinggangku. Jalan itu panjang itu mengapa begitu cepat sampai ya?. Aku tak kuasa menolak kata-kata indah yang diucapkannya yang tertiup diterpa angin. Cantiknya wajahmu masih saja ku ingat ,walau sebatas ku ingat. Kaka kelasku yang cantik. Begitu banyak alasanmu untuk menemuiku, namun saat kau marah padaku, kenapa kartoon dan spidol bisu yang tak mengerti apa2 yang kau taruh di hadapanku. Dia tak bisa mengerti aku. dia membisu. Kau siksa aku dengan tugas menggambar yang begitu banyak, sehingga aku tak kuasa untuk menolak, dan akhirnya aku MABOK BAU SPIDOL.
Kakak kelas ku yang cantik, bukan aku menolak kata-kata dan ungkapan perasaanmu  padaku. Aku bukan menolak cintamu, bukan pula karena perbedaan kelas dan sebagainya.Aku hanya tak kuasa melihat keadaanku. Maafkan aku.   =================by: Soleman 1985


TAK JADI RAHASIA


Telah kupanjatkan ribuan kali doa dan pengharapan. Telah kuusahakan menjadi penjaga amanat Bundaku dalam pesan terakhirnya, dan itu selalu ku ingat walau kadang aku sering alfa melaksanakannya. Hingga sampai kini aku masih terngiang-ngiang akan semua itu, ketika jalanku ditunjukkan ke dunia pilihannya, antara bisa dan tidak. Antara ragu dan tak yakin akan akhirnya. Sampai pada akhirnya Beliau tak pernah melihat bukti dari pesannya. Semoga Allah menyampaikannya.

Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, sehingga menjepit harapan sang Bunda yang hampir pupus. Terasa begitu sangat lama dan panjang , hingga jalan terjal dan apa pun aku lakukan. Hati dan perasaan menjadi satu dalam cita dan doa sang Bunda, ketika 2004 terpanggil dalam pengabdian untuk putera/i bangsa ini. Kini mungkin sudah waktunya kujelaskan agar tak lagi menjadi rahasia dalam kehidupanku, agar ada pelajaran yang dapat dipetik buat anak-anakku, bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan perjuangan butuh waktu dan pengorbanan.

Mungkin bagi sebagian orang ini terasa janggal dan aneh, dan mungkin saja bohong belaka jika makam dan kuburan telah menjadi persinggahan dalam mengejar selembar SK Bupati, yang akhirnya sampai kemana setumpuk kertas penuh tanda tangan pejabat mulai dari RT, Lurah , Camat , bahkan Kapolsek dengan ketebalan setinggi koper pramugara aku bawa itu menuju Bandung yang sampai perpisahan tak pernah ada kabar beritanya.

Tiga tempat penanda surat itu bagi sebagian orang mungkin mudah saja diperoleh dengan secarik amplop berisikan uang bergambar Pak Harto zaman itu, tp bagi keluargaku uang sedemikian sangatlah berharga, dan itu pula yang membuat seorang penjaga POLSEK marah-marah karena keterlambatan kedatanganku, karena tertahan di KORAMIL. Dengan lantangnya dia berkata " Apakah Polsek ini punya Anda, Kamu tahu Kapolsek sudah pulaang!!' Padahal surat2 itu harus selesai hari itu juga. Walau penuh air mata yang membatu akhirnya aku tetap berdiri dan tanpa sadar seorang gadis mengahmpiiri dan menanyakan keperluanku.

Sungguh masih terlalu banyak untuk kuuraikan. Semua hanya berupa kesedihan kepanjangan yang penuh dengan pelajaran, bahwa di negeri ini begitu polemiknya persaingan dengan label uang, mungkin hingga sekarang masih terjadi.
========================1987=====================================


Sabtu, 13 Oktober 2012

GAGAL PENTAS


Cerpen : Gagal Pentas
{ Semoga kita menjadi orang yang bijak , demikian inti cerita dari sisi nyata kehidupanku dalam mengarungi dunia pendidikan }

Panggil saja dia Suhadi. Anak kampung seberang yang terlahir dari keluarga sederhana. Sahabatnya banyak sekali. Semua anak-anak di sekolah mengenalnya,karena keluguannya. Suatu saat aku masuk ke kelas 4 pada awal tugas mengajar di kelasnya. Seperti yang sudah -sudah pada awal tahun perkenalan kelas, mungkin hampir seluruhnya demikian. Kubawa secarik kertas bertuliskan puisi karya Chairil Anwar yang kutuliskan tadi pagi saat sampai di sekolah. Selanjutnya kubacakan puisi itu dalam kelas,dengan penyaksian 40 orang siswa selebihnya aku lupa. Kelas padat menggelegar terdengar suara bait-bait puisi berjudul " AKU".

Itulah awal di mana aku mengetahui siswaku, dengan berbagai ekspresi jiwanya. Ku suruh mereka membaca satu persatu. Belum tuntas semua , kini tiba absensi bernama SUHADI. Dengan rasa percaya diri , dia maju ke depan kelas dan diambilnya secarik puisi tersebut. 
" Harap baca dengan jelas dan semangat " kataku. Belum sempat aku kembali ke kursi. Suhadi membacanya." aa..uu.....aa...uu..."
Tak terbayangkan , semua siswa dalam kelas cekikikan mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Suhadi tersebut. Namun dia hanya tersenyum-senyum saja. Percaya dirinya sungguh tinggi sekali. 
" Kenapa bacanya begitu, Di?
"kamu tidak bisa membacanya, ya?..
Dia manggut-manggut. Dalam pikiranku terus saja berjalan. Koq bisa anak kelas 4 tidak bisa membaca. Gumam ku dalam hati. Mau menyalahkan siapa ?...
Beberapa hari kemudian, aku memanggilnya. 
Di, tolong baca buku ini ya?,..kamu tahu huruf-hurufnya?.....
Ternyata dia tahu semua huruf, cuma belum bisa merangkaikan kata dan kalimat. Buku bahasa Indonesia berwarna hijau itu akhirnya kuperintahkan untuk dibawa pulang. Sambil aku titipkan pesan kepadanya. 

" Suhadi, besok kita latihan drama. Kamu siap tidak jadi peran utamanya?.Dia manggut-manggut lagi.
"Yaa..pak.Demikian katanya.
Ya, sekarang kamu boleh pulang, teman-teman kamu sudah kabur semua. Dengan mencium tangan Suhadi menujuu sepedanya. Dia pun pulang.

 Hari terus berjalan, sebagaimana biasa anak-anak giat latihan dalam mempersiapkan acara perpisahan dan kenaikan kelas. Aku membagi team anak-anak menjadi tiga team kerja. Team pertama dipimpin oleh Suhadi yang menangani lawak dan drama pendek. Team dua dipimpin Ica yang mempersiapkan tari dan dan propertinya, dan Nur mempersiapkan latihan untuk baca puisi. Demikian pembagian tugas itu tersusun, walau pun kepastian dari sekolah sendiri belum jelas.

Hari ini aku pertanyakan tentang acara tersebut kepada pihak sekolah dan membicarakan rincian pendanaan dengan perhitungan jumlah siswa sebanyak 400 orang dengan biaya sebesar lima ribu rupiah. Perkiraan dana akan terkumpul sebesar dua jutaan, dengan daya serap penggunaannya satu juta untuk panggung dan tenda serta sound system , untuk konsumsi dan undangan sebesar satu juta, itu semua baru perkiraan yang aku hitung. Siang itu aku ditugaskan untuk menanyakan biaya panggung dan tenda beserta perlengkapannya.

Siang itu baru saja aku selesai sholat zhuhur , ketika dua rakaat ke dua terdengar bunyi sepeda dan suara salam anak-anak team Suhadi dan teman-temannya.  Siang itu pula mereka memaksaku untuk ke sekolah kembali. Mereka terlihat antusias untuk latihan drama yang aku sendiri belum tahu judul drama apa yang akan aku tampilkan buat siswaku diacara perpisahan nanti.

Badanku masih saja penat, kini sudah kembali lagi ke sekolah mendampingi anak-anak ini untuk latihan. Sesampainya di sekolah aku perintahkan mereka untuk menyusun meja menjadi arena panggung dengan dasar sebagai latihan kepercayaan diri. Aku mencari buku di perpustakaan sekolah mencari bahan untuk drama anak-anak nanti. Kubaca judul buku perpustakaan itu sekilas aku tertarik dengan sebuah judul “ PAHLAWAN TOPENG BISU” demikian judul buku epos perjuangan isinya.

Tak mau kalah dengan antusiasnya anak-anak. Aku pun mencari properti yang dibutuhkan untuk acara tersebut. Bayangan tentang epos perjuangan rakyat kampung dukuh waktu itu. Gambaran tentang kekejaman tentara Belanda dan semangat para pemuda yang menentangnya. Semua sudah terangkum menjadi draf naskah dan garis besar pementasan. Tokoh-tokoh sudah dipilih. Senjata laras panjang yang terbuat dari potongan paralon dan bekas peti telur itu sudah dicat warna hitam. Dua buah golok dari triplek dan rajutan tali rapia telah menempel pada seragam bekas satpam yang masih kusimpan. Hari ini seragam itu telah berubah menjadi seragam tentara kompeni Belanda. Kaos oblong warna putih danpeci bekas yang sudah tak layak pakai pun menjadi bagian yang menarik. Semua telah rapih terbungkus untuk kubawa ke sekolah sebagai bagian perlengkapan pentas nanti.


Dua minggu sudah anak-anak selalu rajin latihan hampir tiap hari, terkadang sampai jam sembilan malam aku mengantarkan mereka untuk pulang ke rumahnya. Satu persatu, tak pernah bosan anak-anak itu. Penat pun tak terasa. Hari yang ditunggu semakin dekat.

Senin itu aku datang terlambat , sehingga tak mengikuti upacara pagi. Aku langsung duduk di samping kantor pada kursi panjang, ketika anak-anak menghampiri dengan wajah pucat pasi. Tak seperti biasanya wajah anak-anak itu demikian rupa. Hanya suara Nur yang kudengar .
“ Acaranya tidak jadi, Pak! Katanya demikian. Aku pun tertegun, bagaimana tidak. Baru saja aku membicarakan tentang panggung dan sound system dan memesannya, hanya tinggal menentukan tanggalnya saja.

Ku perintahkan mereka untuk masuk kelas. Tak terbayangkan oleh ku bagaimana dengan anak-anak itu. Bayanganku melayang kepada sosok Suhadi. Kini dia sudah bisa merangkai kata dari buku berwarna hijau muda milik P&K. Tak terbayangkan pula saat anak-anak tertawa terbahak-bahak , saat Suhadi memerankan “ DUKUN PALSU”. Sungguh terlalu.

Dengan langkah gontai aku memasuki ruang kelas setelah menanyakan kepastian acara yang gagal tersebut. Kupandangi wajah polos itu satu persatu dan entah apa yang harus aku katakan dihadapan mereka. Entah kenapa hari ini aku begitu bego dan bodohnya di mata mereka. Hari ini aku merasa menjadi orang yang paling tak berdaya. Dengan berat aku beranjak dari kursiku dan berdiri pada baris ke dua dari barisan meja itu. Masih kupandangi wajah anak-anak itu ketika suara purauku mengatakan sebuah kata “ Acaranya memang tak jadi, mungkin tahun depan barangkali’ demikian ucapku purau. Sontak kulihat anak-anak di kelas semua menangis. Kepalaku melayang-layang. Hatiku bagaikan diiris-iris. Mata terasa gelap dengan seribu bayangan kekesalan dan umpatan kekecewaan. Maafkan aku, anak-anakku sayang. Hari ini aku tak bisa membelamu. Hari ini bapak tak kuasa,maafkan ,Ple yaa?.....

Aku pun tertunduk ketika suara tangisan semakin menjadi. Tak kuteruskan kata-kataku. Aku tak kuasa sama seperti tak berdayanya anak-anak itu melawan arogansi dan otoritas kepemimpinan. / 2004.




INILAH SOSOK TOPENG BISU , YANG TAK DIKENALI AYAH & IBUNYA. Dia berjuang melawan keserakahan penjajah dan juga Ayahnya sendiri. Dia tak pernah berkata apapun saat tampil dalam perjuangan